Selasa, 30 November 2010

Bale Saresehan


Pendopo atau Bale Saresehan sampai saat ini kondisinya baik, biasanya digunakan sebagai tempat pertemuan dan tempat pagelaran seni sunda.  Luas bangunan 200 m dengan kapasitas 100 orang.  Setiap bulan sura menjadi rutinitas bagi masyarakat adat kampung Cireundeu untuk menggelar seni dan budaya sunda, setiap bulan tersebut biasanya diadakan pagelaran wayang golek. Tradisi ini dilakukan sebagai rasa syukur kepada Yang Maha Pencipta atas karunia dan kenikmatan yang telah diterima, berupa keberkahan hidup, kesehatan lahir dan bathin atas pemberian Yang Maha Pencipta melalui alam sebagai tempat tumbuhnya segala jenis tanaman, tempat hidup binatang / ternak juga diberikannya sumber air untuk kelangsungan hidup warga kampung Cireundeu khususnya.
Karena begitu cintanya kepada lingkungan dan alam sekitar, maka adanya tempat pembuangan sampah disekitar kampung tidak sesuai dengan hati nuraninya.
Di Kampung Cireundeu juga terdapat bangunan sekolah dasar sebanyak 2 unit dengan jumlah kelas 6 ruangan dan satu buah ruangan kantor.  Selain adanya fasilitas pendidikan umum, juga ada Pusat Kegiatan Belajar dan Bermain anak-anak yang tempatnya di Bale Saresehan.

Agroindustri yang sedang berjalan

Agroindustri yang sedang berjalan di kampung Cireundeu berupa pengolahan diversifikasi produk makanan yang berbahan dasar singkong, diantaranya pembuatan rasi, kerupuk aci, opak singkong, ranggining, aci singkong, tape gendul, peuyeum mutiara, isrud, ciwel, sorandil,kecimpring, awug, katimus dan gegetuk. 
Proses pembuatan khususnya dalam pembuatan makanan pokok dari singkong ( Rasi ) secara singkat dapat dipaparkan sebagai berikut  : Pertama-tama singkong hasil panen dikupas lalu dicuci bersih.  Setelah dicuci kemudian diparut atau digiling dengan mesin penggilingan, selanjutnya singkong yang sudah halus tersebut disiram airdalam suatu tempat khusus dan disaring sampai air perasannya sampai jernih.  Ampas tersebut dijemur sampai kering lalu dicampur dengan tepung singkong yang telah ditumbuk.  Hasil inilah yang disebut dengan beras singkong.  Sebelum dimasak, beras singkong ini diperciki air sedikit demi sedikit, kemudian dikukus selama kurang lebih 15 menit.  Hasil tersebut adalah Nasi singkong. 
Saat ini dilakukan di beberapa lokasi dan rumah penduduk jadi belum ada tempat khusus / pabrik pengolahan yang tersentralisasi.
Diversifikasi produk olahan dari bahan dasar singkong segar ini dapat dibuat menjadi Beras singkong (Rasi) dan kanji.  Selain itu limbah olahannya yaitu kulitnya dapat dijadikan nilai tambah yang sangat berarti untuk pakan ternak.   
Di Kampung Cireundeu Kota Cimahi penganekaragaman produk olahan singkong sudah berjalan selama puluhan tahun . Produk olahan tersebut mempunyai nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan singkong segar hasil panen.
Untuk itu diharapkan pola kebiasaan konsumsi pangan di Kampung Cireundeu dapat
 diketuktularkan” ke daerah lain.
Usaha diversifikasi produk singkong tersebut selain akan membantu peningkatan taraf ekonomi masyarakat di pedesaan  khususnya juga kemandirian
pangan akan terwujud .
 Dengan adanya industri pengolahan tersebut, hasil proses produksinya dapat segera tersosialisasi kepada masyarakat umum., apabila hal ini terjadi akan mendorong tumbuhnya kemandirian pangan di lingkungan keluarga, masyarakat dan akhirnya ketahanan pangan nasional dapat segera tercapai.

Keadaan Tanaman dan Peternakan

Keadaan tanaman pertanian yang biasa dibudidayakan di Kampung Cireundeu adalah jenis tanaman palawija diantaranya singkong, ubi jalar, kacang tanah dan jagung.
Luas lahan yang di dipergunakan untuk tanaman singkong sekitar 25 Ha, untuk tanaman jagung 3 Ha.  Sedangkan tanaman kacang tanah dan ubi jalar biasanya dibudidayakan dengan sistim tumpang sari.
Budidaya singkong di Kampung Cireundeu sudah intensif  dilakukan baik dari segi
budidaya maupun pengolahannya, pemeliharaan singkongnya pun sangat mudah sehingga setiap orang dapat memeliharanya.  Hasil pengolahan sebagian dijual dengan cara konsumennya sendiri yang datang ke lokasi atau hasil olahannya dikirim sesuai pesanan
Tanaman hortikultura seperti sawi, tomat, cabe dan jenis tanaman buah-buahan biasanya ditanam dalam rangka pemanfaatan lahan pekarangan saja.
Di bidang peternakan masyarakat adat kampung Cireundeu mengusahakan ternak domba dan ayam.  Populasi ternak di kampung Cireundeu yang paling dominan adalah ternak domba yakni sekitar 380 ekor, sedangkan ternak ayam hanya sekitar 100 ekor.  Hal ini karena ternak domba dapat dimanfaatkan untuk penggunaan limbah singkong berupa kulit dan daunnya  sebagai makanannya.

Karakteristik Makanan Pokok Kp. Cireundeu


Masyarakat Kampung Cireundeu pada umumnya telah terbiasa dengan  kegiatan budidayaan tanaman singkong, dari mulai proses pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pembuatan beraneka ragam jenis makanan yang berbahan dasar singkong, salah satunya adalah “Rasi” atau beras singkong.  Hal ini telah dilakukan sejak lebih dari 80 tahun, dan merupakan keseharian masyarakat kampung Cireundeu hingga saat ini.
Dalam kehidupan keseharian penduduk kampung Cireundeu dapat dikatakan sudah mandiri pangan dalam hal makanan pokok, sehingga tidak terpengaruh oleh gejolak sosial terutama pada harga beras.
Taraf ekonomi masyarakat kampung Cireundeu sudah tidak ada yang kekurangan, dalam hal mengkonsumsi beras singkong bukan disebabkan oleh kondisi ekonominya tetapi disebabkan karena tradisi yang dianutnya.

Penduduk dan Mata Pencaharian


Jumlah penduduk menurut jenis kelamin terdiri dari Laki-laki 270 orang dan Perempuan 256 orang, sedangkan menurut struktur umur terdiri dari Dewasa  >  21 Tahun........orang, remaja 7 – 21 tahun  283 orang dan anak-anak  < 7 tahun 83 orang.
Tingkat pendidikan mereka umumnya tamatan SLTP, terdiri dari Perguruan Tinggi 4 orang, SMU 65 orang, SLTP 205 orang dan tamatan SD 24 orang.
Prestasi yang telah dicapai saat ini diantaranya ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan Nasional dibidang ketahanan pangan nasional di Makassar dan Lampung serta sering diundang oleh instansi, lembaga maupun forum yang berkaitan erat dengan dunia pangan dan pertanian umumnya, mendapat beberapa penghargaan tingkat lokal, regional dan nasional, Kegiatan partisipasi dan Piagam yang telah diterima ( Terlampir ).
Mata pencaharian penduduk terdiri dari bertani dan beternak 96 orang ( 54.24 % ), PNS / Pensiunan 6 orang ( 3.39 % ), buruh/bangunan 25 orang (14.12 % ), Swasta 50 orang           ( 28.25 % ).