Luas areal tanah yang biasa dipakai kegiatan budidaya tanaman singkong dan tanaman jenis lainnya oleh masyarakat kampung Cireundeu sekitar 25 Ha. Disamping itu areal tanah di sepanjang bukit mulai dari Pasir panji, Gunung Jambul, Gajah langu, puncak salam, gunung cimenteng sampai berbatasan dengan Kecamatan Batujajar diperkirakan seluas 800 Ha. Sedangkan luas areal yang dipakai perumahan masyarakat sekitar 5 Ha.
Selasa, 30 November 2010
Sabtu, 20 November 2010
KEADAAN TANAH
Keadaan tanah di Kampung Cireundeu dan sekitarnya diantaranya jenis tanah Latosol dan podsolik merah kuning, dengan topografi datar, bergelombang sampai berbukit.
Luas Areal dan Tata Guna Lahan
Luas areal tanah yang biasa dipakai kegiatan budidaya tanaman singkong dan tanaman jenis lainnya oleh masyarakat kampung Cireundeu sekitar 25 Ha. Disamping itu areal tanah di sepanjang bukit mulai dari Pasir panji, Gunung Jambul, Gajah langu, puncak salam, gunung cimenteng sampai berbatasan dengan Kecamatan Batujajar diperkirakan seluas 800 Ha. Sedangkan luas areal yang dipakai perumahan masyarakat sekitar 5 Ha.
Penduduk dan Mata Pencaharian
Jumlah penduduk menurut jenis kelamin terdiri dari Laki-laki 270 orang dan Perempuan 256 orang, sedangkan menurut struktur umur terdiri dari Dewasa > 21 Tahun........orang, remaja 7 – 21 tahun 283 orang dan anak-anak < 7 tahun 83 orang.
Tingkat pendidikan mereka umumnya tamatan SLTP, terdiri dari Perguruan Tinggi 4 orang, SMU 65 orang, SLTP 205 orang dan tamatan SD 24 orang.
Prestasi yang telah dicapai saat ini diantaranya ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan Nasional dibidang ketahanan pangan nasional di Makassar dan Lampung serta sering diundang oleh instansi, lembaga maupun forum yang berkaitan erat dengan dunia pangan dan pertanian umumnya, mendapat beberapa penghargaan tingkat lokal, regional dan nasional, Kegiatan partisipasi dan Piagam yang telah diterima ( Terlampir ).
Mata pencaharian penduduk terdiri dari bertani dan beternak 96 orang ( 54.24 % ), PNS / Pensiunan 6 orang ( 3.39 % ), buruh/bangunan 25 orang (14.12 % ), Swasta 50 orang ( 28.25 % ).
Luas Areal dan Tata Guna Lahan
Luas areal tanah yang biasa dipakai kegiatan budidaya tanaman singkong dan tanaman jenis lainnya oleh masyarakat kampung Cireundeu sekitar 25 Ha. Disamping itu areal tanah di sepanjang bukit mulai dari Pasir panji, Gunung Jambul, Gajah langu, puncak salam, gunung cimenteng sampai berbatasan dengan Kecamatan Batujajar diperkirakan seluas 800 Ha. Sedangkan luas areal yang dipakai perumahan masyarakat sekitar 5 Ha.
Penduduk dan Mata Pencaharian
Jumlah penduduk menurut jenis kelamin terdiri dari Laki-laki 270 orang dan Perempuan 256 orang, sedangkan menurut struktur umur terdiri dari Dewasa > 21 Tahun........orang, remaja 7 – 21 tahun 283 orang dan anak-anak < 7 tahun 83 orang.
Tingkat pendidikan mereka umumnya tamatan SLTP, terdiri dari Perguruan Tinggi 4 orang, SMU 65 orang, SLTP 205 orang dan tamatan SD 24 orang.
Prestasi yang telah dicapai saat ini diantaranya ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan Nasional dibidang ketahanan pangan nasional di Makassar dan Lampung serta sering diundang oleh instansi, lembaga maupun forum yang berkaitan erat dengan dunia pangan dan pertanian umumnya, mendapat beberapa penghargaan tingkat lokal, regional dan nasional, Kegiatan partisipasi dan Piagam yang telah diterima ( Terlampir ).
Mata pencaharian penduduk terdiri dari bertani dan beternak 96 orang ( 54.24 % ), PNS / Pensiunan 6 orang ( 3.39 % ), buruh/bangunan 25 orang (14.12 % ), Swasta 50 orang ( 28.25 % ).
SEJARAH
Masyarakat adat Kampung Cireundeu menganut kepercayaan tersendiri. Penduduk kampung Cireundeu tersebut pada mulanya menggunakan beras sebagai makanan pokoknya. Alasan beralih menjadi singkong sebagai makanan pokok karena pada masa penjajahan Belanda terjadi kekurangan pangan khususnya beras. Oleh karenanya pengikut aliran kepercayaan tersebut diwajibkan berpuasa dengan cara mengganti nasi beras dengan nasi singkong sampai waktu yang tidak terbatas. Tujuan berpuasa adalah agar segera merdeka lahir dan bathin, menguji keyakinan para penganut aliran kepercayaan serta agar mereka selalu ingat pada Tuhan Yang Maha Esa.
Selain itu masyarakat adat Kampung Cireundeu berpedoman pada prinsip hidup yang mereka anut yaitu : “ Teu Nyawah asal boga Pare, Teu Boga Pare asal Boga Beas, teu boga Beas asal bisa Nyangu, teu Nyangu asal Dahar, teu Dahar asal Kuat”, yang maksudnya adalah tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal dapat menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal kuat. Mohon kekuatan ini harus kepada Yang Memiliki, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Beralihnya makanan pokok masyarakat adat kampung Cireundeu dari nasi beras menjadi nasi singkong dimulai kurang lebih tahun 1918, yang dipelopori oleh Ibu Omah Asmanah, putra Bapak Haji Ali yang kemudian diikuti oleh saudara-saudaranya di kampung Cireundeu. Ibu Omah Asmanah mulai mengembangkan makanan pokok non beras ini, berkat kepeloporannya tersebut Pemerintah melalui Wedana Cimahi memberikan suatu penghargaan sebagai “ Pahlawan Pangan”, tepatnya pada tahun 1964.
Pada masa tugas Bupati Memed yang mempunyai perhatian besar terhadap makanan pokok singkong, makanan pokok penduduk kampung Cireundeu tersebut sering diikutsertakan pada pameran-pameran makanan non beras yang mewakili Kabupaten Bandung.
Salah satu tujuan diperkenalkannya berbagai jenis makanan yang terbuat dari singkong dan proses pembuatan nasi singkong adalah agar masyarakat pada umumnya tidak tergantung pada beras sebagai makanan pokok.
Selain tersebut diatas kearifan budaya lokal masih sangat kental yang selalu diterapkan dilingkungan masyarakat adat kampung Cireundeu. Kepedulian dan kecintaannya terhadap alam dan lingkungan sekitar menjadi bagian dari kehidupan warga, sebagaimana petuah leluhurnya dalam rangka menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan dalam bahasa sunda sebagai berikut : “ Gunung Kaian, Gawir Awian, Cinyusu Rumateun, Sampalan Kebonan, Pasir Talunan, Dataran Sawahan, Lebak Caian, Legok Balongan, Situ Pulasaraeun, Lembur Uruseun, Walungan Rawateun, jeung Basisir Jagaeun “.
petuah leluhurnya dalam rangka menjaga dan melestarikan alam dan hutan dalam bahasa sunda sebagai berikut : “Saha anu wani ngarempak jagat Pasundan leuweung kahiyangan isuk jaganing pageto pati kudu wani disanghareupan ......................Nu wani ngaguna sika leuweung saliara karamat tutupan hirup cadu mawa hurip, kaluhur ulah sirungan ka handap ulah akaran......................Nu nisca kalakuan remen nigas pucuk linduh dinatangkal hirup teu maslahat hamo lana dipungkas nemahing ajal....................Cahaya isun meting kawani titis galur siliwangi......................Ya isun tajimalela nu rek ngajaga wana nepikeun ka pejah nyawa”.
( Kata-kata ini milik paguyuban silaturahmi warga kampung Cireundeu, dilindungi undang-undang RI Nomor 12 tahun 1997 bab VI Ketentuan Pidana Pasal 44 ayat 1 dan 2. )
Letak Geografi
Kampung Cireundeu merupakan salah satu lokasi yang terletak dikelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, hal ini berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Cimahi.
Kampung Cireundeu terletak diperbatasan kota Cimahi dengan Kabupaten Bandung Barat tepatnya dengan Kecamatan Batujajar. Jarak dari kampung Cireundeu ke Kelurahan Leuwigajah -/+ 3 Km dan 4 Km ke kecamatan serta 6 Km ke kota atau Pemerintah Kota Cimahi, dengan keadaan topografi datar, bergelombang sampai berbukit.
Kampung Cireundeu dikelilingi oleh gunung Gajah langu dan Gunung Jambul disebelah Utara, gunung Puncak Salam di sebelah Timur, Gunung Cimenteng di sebelah Selatan serta Pasir Panji, TPA dan Gunung Kunci disebelah Barat. Dari ketinggian Gunung gajah langu -/+ 890 meter dpl. Tersebut, selayang pandang terlihat jelas panorama Kota Cimahi, Kota Madya Bandung dan Kabupaten Bandung yang berada pada cekungan dan hamparan telaga.
Selain itu masyarakat adat Kampung Cireundeu berpedoman pada prinsip hidup yang mereka anut yaitu : “ Teu Nyawah asal boga Pare, Teu Boga Pare asal Boga Beas, teu boga Beas asal bisa Nyangu, teu Nyangu asal Dahar, teu Dahar asal Kuat”, yang maksudnya adalah tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal dapat menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal kuat. Mohon kekuatan ini harus kepada Yang Memiliki, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Beralihnya makanan pokok masyarakat adat kampung Cireundeu dari nasi beras menjadi nasi singkong dimulai kurang lebih tahun 1918, yang dipelopori oleh Ibu Omah Asmanah, putra Bapak Haji Ali yang kemudian diikuti oleh saudara-saudaranya di kampung Cireundeu. Ibu Omah Asmanah mulai mengembangkan makanan pokok non beras ini, berkat kepeloporannya tersebut Pemerintah melalui Wedana Cimahi memberikan suatu penghargaan sebagai “ Pahlawan Pangan”, tepatnya pada tahun 1964.
Pada masa tugas Bupati Memed yang mempunyai perhatian besar terhadap makanan pokok singkong, makanan pokok penduduk kampung Cireundeu tersebut sering diikutsertakan pada pameran-pameran makanan non beras yang mewakili Kabupaten Bandung.
Salah satu tujuan diperkenalkannya berbagai jenis makanan yang terbuat dari singkong dan proses pembuatan nasi singkong adalah agar masyarakat pada umumnya tidak tergantung pada beras sebagai makanan pokok.
Selain tersebut diatas kearifan budaya lokal masih sangat kental yang selalu diterapkan dilingkungan masyarakat adat kampung Cireundeu. Kepedulian dan kecintaannya terhadap alam dan lingkungan sekitar menjadi bagian dari kehidupan warga, sebagaimana petuah leluhurnya dalam rangka menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan dalam bahasa sunda sebagai berikut : “ Gunung Kaian, Gawir Awian, Cinyusu Rumateun, Sampalan Kebonan, Pasir Talunan, Dataran Sawahan, Lebak Caian, Legok Balongan, Situ Pulasaraeun, Lembur Uruseun, Walungan Rawateun, jeung Basisir Jagaeun “.
petuah leluhurnya dalam rangka menjaga dan melestarikan alam dan hutan dalam bahasa sunda sebagai berikut : “Saha anu wani ngarempak jagat Pasundan leuweung kahiyangan isuk jaganing pageto pati kudu wani disanghareupan ......................Nu wani ngaguna sika leuweung saliara karamat tutupan hirup cadu mawa hurip, kaluhur ulah sirungan ka handap ulah akaran......................Nu nisca kalakuan remen nigas pucuk linduh dinatangkal hirup teu maslahat hamo lana dipungkas nemahing ajal....................Cahaya isun meting kawani titis galur siliwangi......................Ya isun tajimalela nu rek ngajaga wana nepikeun ka pejah nyawa”.
( Kata-kata ini milik paguyuban silaturahmi warga kampung Cireundeu, dilindungi undang-undang RI Nomor 12 tahun 1997 bab VI Ketentuan Pidana Pasal 44 ayat 1 dan 2. )
Letak Geografi
Kampung Cireundeu merupakan salah satu lokasi yang terletak dikelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, hal ini berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Cimahi.
Kampung Cireundeu terletak diperbatasan kota Cimahi dengan Kabupaten Bandung Barat tepatnya dengan Kecamatan Batujajar. Jarak dari kampung Cireundeu ke Kelurahan Leuwigajah -/+ 3 Km dan 4 Km ke kecamatan serta 6 Km ke kota atau Pemerintah Kota Cimahi, dengan keadaan topografi datar, bergelombang sampai berbukit.
Kampung Cireundeu dikelilingi oleh gunung Gajah langu dan Gunung Jambul disebelah Utara, gunung Puncak Salam di sebelah Timur, Gunung Cimenteng di sebelah Selatan serta Pasir Panji, TPA dan Gunung Kunci disebelah Barat. Dari ketinggian Gunung gajah langu -/+ 890 meter dpl. Tersebut, selayang pandang terlihat jelas panorama Kota Cimahi, Kota Madya Bandung dan Kabupaten Bandung yang berada pada cekungan dan hamparan telaga.
Langganan:
Postingan (Atom)